Pengetahuan Umum

TARAWIH DAN RAMADHAN

  • 05 Apr, 2023
  • 423
TARAWIH DAN RAMADHAN

TARAWIH DAN RAMADHAN

Sudah menjadi hal yang maklum, bahwa Shalat tarawih adalah shalat sunah yang menjadi “paket yang tidak terpisahkan dari bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini. waktunya, dikerjakan sesudah sholat isya’ sampai terbitnya fajar yang menandakan masuknya waktu sholat subuh, sebagaimana yang dikerjakan oleh para sahabat, tabi’in, salaf dan sampai pada masa kini, yang telah dikerjakan dan dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, sehingga beliau juga menunjukkan keutamaan dari shalat tarawih tersebut sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori dan Al Imam Muslim dari riwayat Sayyiduna Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, yang mana beliau berkata: sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam telah bersabda: Barang siapa menghidupkan bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”.

Al Imam Nawawi  berkata : yang di maksud “menghidupkan bulan ramadhan” adalah dengan Shalat Tarawih.

PENCETUS SHALAT TARAWIH

Tentulah dapat dipastikan, bahwa pencetus pertama dari shalat tarawih adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ummul Muminin Sayyidatuna Aisyah Radhiyallahu Taala Anha, beliau berkata: pada suatu malam An Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, mengerjakan shalat di masjid maka datang sekelompok orang ikut mengerjakan shalat bersama Nabi sehingga bertambah banyak orang yang ikut shalat bersamanya, begitu juga hari berikutnya. Pada hari ke tiga dan ke empat banyak orang berkumpul menunggu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam akan tetapi beliau tidak keluar ke masjid, sehingga di pagi harinya Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersabda : Sungguh aku telah tahu apa yang kalian lakukan semalam dan tidak ada yang mencegah aku keluar kecuali aku takut apabila diwajibkan kepada kalianBerkata Sayyidatuna Aisyah : “dan kejadian itu di bulan Ramadhan”.

 

BERJAMA’AH

Setelah Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat, salat tarawih selalu di kerjakan di malam-malam bulan Ramadhan dan dikerjakan sediri-sendiri. Pada zaman Sayyiduna Umar Radhiyallahu Ta’ala Anhu, beliau memerintahkan untuk dikerjakan secara berjamaah (seperti dahulu di zaman Nabi) sebagimana yang telah diriwayatkan Sayyiduna Abdurrahman bin Abdul Qari, beliau berkata: “ketika aku keluar bersama Sayyiduna Umar bin khattab di malam  bulan Ramadhan maka kami mendapati muslimin mengerjakan shalat tarawih dengan sendiri-sendiri dan ada juga yang berjamaah dengan sekelompok orang. Berkata Sayyiduna Umar: “saya berpendapat, kalaulah dikerjakan berjamaah maka akan indah”, lalu beliau mengumpulkan mereka dan dipilihlah Sayyiduna Ubay bin ka’ab menjadi Imam.

Berkata Sayyiduna Abdurrahman bin Abdul Qari, lalu keesokan harinya, aku keluar lagi bersama Beliau (Sayyiduna Umar) dan shalat tarawih dikerjakan berjamaah dengan imamnya Sayyiduna Ubay bin ka’ab, lalu berkata : “inilah sebaik-baiknya bid’ah”.

 

RAKAAT   TARAWIH

Shalat Tarawih, merupakan ibadah sunnah yang muakkad, sebagaimana tertera dalam hadits di awal tulisan ini, dengan jumlah rakaat 20, dengan 10 salam. Jika kita gabungkan dengan 3 rakaat dari shalat witir, menjadi 23 rakaat.

Tidak ada satupun yang menentang akan hal ini, semenjak zaman Sayyiduna Umar bin Khattab, lalu zaman para Imam 4 Madzhab sampai saat ini. Hanya saja memang Al Imam Malik disamping berpendapat 23 rakaat, juga memunculkan pendapat, bahwa shalat tarawih 36 rakaat di tambah 3 rakaat witir, menjadi 39 rakaat. Pendapat beliau ini berdasarkan amalan penduduk Kota Madinah Al Munawwaroh.

Para Imam Madzhab mengambil pendapat yang sama, tentang 20 rakaat, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Al Baihaqi dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, dari Sayyiduna As Saib bin yazid Radhiallahu Anhu, beliau berkata: sesungguhnya dahulu para sahabat mendirikan shalat tarawih di zaman Sayyiduna Umar dua puluh rakaat.

Begitu juga yang diriwayatkan dari Al Imam Malik bin Anas Radhiyallahu Anhu di dalam kitabnya Al Muwaththo’ dari sahabat Yazid bin Rumman Radhiallahu Anhu berkata: sesungguhnya dahulu para sahabat mendirikan shalat tarawih di zaman Sayyiduna Umar dua puluh tiga rakaat.

Dari Al Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni, beliau menjelaskan sesungguhnya para ulama sepakat bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 20 dan menolak atas pendapat Al Imam Malik  Radhiallahu Anhu dalam riwayatnya yang kedua yaitu tiga puluh enam rakaat.  Al Imam Ahmad bin Hambal, Al Imam Abu Hanifah, Al Imam Asy Syafi’i dan imam Ats Tsauri Radhiallahu Anhum bersepakat bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat. Adapun Imam Malik Radhiallahu Anhu mengerjakan tiga puluh enam rakaat karena mengikuti apa yang di kerjakan ahli Madinah.

Disebutkan di dalam kitab Mukhtasor Almuzani bahwa Al Imam Asy Syafi’I berkata: “Aku telah mendapati ahli madinah mengerjakan tarawih 36 rakaat tetapi Aku lebih suka 20 karna mengikuti apa yang telah diriwayatkan dari Sayyiduna Umar bin Khattab.

Begitu juga, telah menjadi amalan ahlu Makkah mengerjakan shalat tarawih dengan dua puluh rakaat ditambah dengan tiga rakaat witir.

Al Imam At Turmudzi juga meriwayatkan dalam kitab Sunannya, bahwa shalat Tarawih adalah 20 rakaat. Begitu pula apa yang dikatakan oleh Al Imam Ibn Rusyd dan Al Imam An Nawawi.

Al Imam Ibnu Taymiyyah mengatakan dalam Fatwanya: “adalah benar bahwa Ubay bin Kaab dahulu menjadi imam dalam shalat tarawih 20 rakaat dan berwitir dengan 3 rakaat. Dengan inilah banyak ulama sepakat bahwa inilah yang tepat, karena dikerjakan ditengah-tengah para Muhajirin dan Anshor, dan tidak terdapat seorangpun dari para sahabat yang menentang hal tersebut”. Sebagaimana dilaksanakan sampai saat ini di Masjidil Haram dan Masjid An Nabawi serta di sebagian besar masjid-masjid kaum Muslimin.

Bahkan Sayyiduna Ali Radhiallahu Anhu berkata: Semoga Allah menerangi kubur Umar Radhiallahu Anhu sebagaimana beliau telah menerangi masjid-masjid kita”.

 

 

KESIMPULAN

            Setidaknya ada empat kesimpulan yang dapat kita tarik dari pembahasan ini, yaitu:

1.          Menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan ibadah adalah sunnah muakkadah, sebab Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam sangatlah menganjurkan hal tersebut, sehingga beliau bersabda: “(Ramadhan) adalah bulan yang diwajibkan berpuasa oleh Allah Subhanahu wa Taala, dan aku sunnahkan shalat di malam harinya, siapa yang berpuasa di siang harinya dan shalat di malam harinya (tarawih) dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah, akan keluar dari bulan Ramadhan seperti bayi yang baru dilahirkan (tanpa dosa).”

2.          Tarawih berjamaah sunnah muakkadah, sebab pernah dikerjakan Rasulullah pada beberapa malam dibulan Ramadhan, juga sebagaimana yang dilakukan para sahabat setelahnya

3.          jumlah rakaat tarawih 20 rakaat, sebagaimana ijma para sahabat dan ulama, merupakan sunnah juga, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, “Kerjakanlah atas kalian akan sunnah-sunnahku dan sunnah-sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku.”

4.          Shalat tarawih dikerjakan setelah mengerjakan shalat Isya. Tidak sah bila dikerjakan sebelum menyelesaikan shalat Isya.

 

RENUNGAN

            Perlu diingat, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa perbedaan ini hanyalah berkisar seputar mana yang lebih afdhal? Jadi, tidak selayaknya kelompok yang lebih memilih melaksanakan shalat Tarawih dua puluh rakaat melecehkan atau menyesatkan kelompok yang memilih melakukannya delapan rakaat. Begitu pula sebaliknya. Apalagi sampai saling mengkafirkan. Sungguh sangat disesalkan, di bulan Ramadhan yang agung, bulan untuk berlomba-lomba mencari pahala, berkah, rahmah dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta`ala, justru dikotori dengan saling hina, saling menyalahkan bahkan saling bertikai antara kelompok masyarakat yang lebih memilih shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat dengan kelompok masyarakat yang memilih delapan rakaat saja. Seorang ulama besar kota Jakarta Al Muhaddits Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan pernah ditanya tentang jumlah rakaat pada solat taraweh di bulan ramadhan. Maka beliau menjawab dengan tegas: “Silahkan jika anda ingin salat 20 rakaat. Dan silahkan jika anda ingin solat 8 rakaat. Dan silahkan jika anda tidak ingin melaksanakan solat taraweh sama seekali, karena taraweh adalah ibadah yang sunnah dan bukan wajib. Namun anda sangat dilarang untuk berkelahi, bertikai, bermusuhan dan mendengki serta saling membenci. Inilah yang diharamkan oleh Allah yang harus lebih kita perhatikan.

            Sungguh, Taufiq hanyalah dari Allah Subhanahu wa Taala, yang semoga di berikan pada kita semua. Amin.

Tag:
Share on:

Komentar

Belum Ada Komentar...

Beri Komentar Disini