Pengetahuan Umum

UMUR PERTAMA

  • 03 Feb, 2024
  • 595
UMUR PERTAMA

Masanya dari sejak allah  ta’ala menciptakan Adam a.s. dan menitipkan anak keturunan di sulbinya yang penuh keberkatan, dari para generasi yg benar (ahlul-yamin) dan generasi yg sesat ( ahlu-syimal). Mereka itu adalah orang-orang yang di dalam kedua genggaman tangan Allah yang maha suci (sebagaimana bunyinya sebuah Hadis Qudsi).

Allah s.w.t. telah  mengeluarkan anak keturunan adam ini dari tulang punggungnya, setelah Dia menetapkan mereka sekalian di situ, yaitu pada hari Mitsaaq atau hari mengambil janji dari sekalian manusia untuk mengakui keesaan dan ketuhanan allah s.w.t. dan momentum itu terjadi di lembah Na’man,  yaitu lembah yang dekat  dengan Padang Arafah, sesuai dengan firman Allah Ta’ala.

واذ اخذ ربك من بني آدم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم ألست بربكم, قالوا بلى شهدنا أن تقولوا  يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين .                                                                (الأعراف: 172)

“Dan ketika Tuhan kamu menjadikan keturan Adam dari punggungnya, dan Tuhan mengambik kesaksian dari mereka dengan berkata: Bukan kah Aku ini Tuhan kamu ?” mereka menjawab : betul kami bersaksi engkaulah tuhan kami’. (Kami lakukan yg demikian itu ) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan : “sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan tuhan) (Al-A’raf:172)

Dan seterusnya  bacalah lagi ayat-ayat yang berikutnya pula.

            Di dalam khabar, atau atsar tersebut suatu riwayat, bahwasanya Allah s.w.t. setelah mengambil perjanjian dari keturunan adam a.s. dituliskanNya bagi mereka suatu catatan, lalu disimpankanNya pada Hajarul-aswad (Batu Hitam). Sebab itulah para Haji ketika mencium Hajarul-aswad setelah selesai tawaf di baitul-atiq (Ka’bah), membaca bacaan berikut:

اللهم ايمانا بك ووفـاء بعهدك وتصديقا بكتابك.

“Ya Allah! YaTuhanku! Ini adalah sebagai memenuhi keimanan denganMu, dan sebagai menunaikan janjiku kepadaMu, dan sebagai mempercayai kepada ketabmu”

Tiada keraguan  lagi, bahwa pengakuan ini menunjukan bahwasanya anak keturunan adam terdapat perwujudan, pendengaran dan percakapan , akan tetapi mereka berada di dalam peringkat lain dari peringkat-peringkat perwujudan. Jelaslah perkara itu berlaku bukan pada peringkat ujud sekarang yang di dunia ini, karena peringkat-peringkat ujud itu banyak, sebagaimana yang telah di katakan oleh ahli-ahli yang mengatahui mengenainya. 

Pernah di riwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w.berkata: Baginda telah menjadi Nabi, sedang Adam masih berada dalam peringkat antara air dan tanah, dan antara roh dan jasad.Dan bahwasanya baginda berada bersama Adam ketika nabi saw diturunkan ke dunia dan nabi saw bersma nabi nuh ketika menaiki perahu dan nabi saw bersama nabi ibrahim, ketika beliau di lemparkan ke dalam api pembakaran Raja Namrudz. Meskipun perkara ini umum berlaku pada sekalian anak keturunan Adam yang menetap pada sulbi para nabi tersebut alihimus-shalatu was-salam.Akan tetapi bagi zat Rasulullah s.a.w.sendiri ujud yang lebih lengkap  dan sempurna. Hal itu mungkin di ketahui o leh baginda dan di rasakannya sendiri ketika berlaku, sehingga baginda di lahirkan di dalan duniawi ini.

Kata-kata baginda seperti di atas tadi menunjukan kelebihan baginda dari selain manusia, sebagai seorang manusia yang telah di beri keutamaan, dan agamanya juga turur menjadi utama lantaran keutamaan yang di sanjungnya. Adapun zuriat-zuriat yang lain, tidak mustahil boleh merasakan hal-hal yang serupa ketika dalam peringkat umur itu, terutama sekali pada masa mengambil janji kepada Tuhan di ‘Yaumil Mitsaq’ (Hari mengambil Janji), akan tetapi ingatan di hari itu sudah tidak ada lagi dalam pengetahuan atau perasaan mereka, sebagaimana ianya tetap dan kekal pada diri baginda Rasulullah s.a.w.

 

Tag:
Share on:

Komentar

Belum Ada Komentar...

Beri Komentar Disini