Lihatlah Apa Yang Dikatakan, Jangan Melihat Siapa Yang Mengatakan.

Tadi saya lagi makan bersama Habib Abdullah bin Aqil dan Habib Sholeh Maula Dawilah di pinggir jalan Kota Palangkaraya. Kita makan sop Betawi dan sate. Tiba-tiba datang seorang pengamen. Dia mengamen, dan nyanyiannya enak banget. Lirik lagunya juga bagus sekali. Setiap dia membawakan syair lagu, selalu diselipi ayat-ayat Al-Qur’an. Saya dengarkan, rasanya nikmat sekali.

Saya kasih uang Rp.120.000 ke dia. Lalu saya bilang, “Bang, enak banget lagunya. Ini lagu orang atau abang yang bikin?” Dia jawab singkat, “Ana yang bikin.” Saya bilang, “Nyanyi lagi ya.” Akhirnya dia nyanyi satu lagu lagi.

Setelah itu kita ngobrol. Ternyata dia perantau dari Jakarta, kawasan Manggarai. Ngobrol-ngobrol, rupanya dia hafal Al-Qur’an. Dalam obrolan, dia cerita tentang pemahamannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Bahasanya bahasa orang jalanan, sederhana, tapi dalam sekali. Dia bilang, nama Allah itu ada 99, namun semuanya kembali kepada dua nama: Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dan dari semua nama Allah yang 99 itu, hanya satu nama yang tidak boleh dimiliki oleh hamba-Nya, yaitu Al-Mutakabbir. Saya hanya bisa bergumam dalam hati: keren banget.

Kemudian saya tanya, “Kok bisa tinggal di Palangkaraya? Sudah berapa lama?” Dia jawab, sudah 19 tahun. Dulu dia menikah dengan seorang wanita yang dia Islamkan, lalu menetap di Palangkaraya. Dia didik istrinya sampai bisa shalat, ngaji, dan sebagainya. Mereka punya anak. Namun setelah 18 tahun menikah, mereka akhirnya bercerai. Hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan, tapi semua tetap berada dalam genggaman Allah.

Dia senang karena saya mau mendengarkan ceritanya. Saya bilang, “Lagu yang abang bawakan itu bagus banget.” Lalu dia menjawab dengan satu kalimat:

انظر ما قال ولا تنظر من قال

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan.


Saya bilang, “Betul banget.” Kalau saya sebagai penceramah dan pendakwah, maka abang dengan lagu ini juga sedang berdakwah. Dia senang mendengarnya. Lalu saya tawarkan makan. Akhirnya kita bungkuskan untuknya sop Betawi. Di sela percakapan, ternyata ada jalur kekerabatan yang bersinggungan. Hal-hal seperti ini memang sering Allah hadirkan tanpa kita duga.

Lalu saya tawarkan makan. Akhirnya kita bungkuskan untuknya sop Betawi. Di sela percakapan, ternyata ada jalur kekerabatan yang bersinggungan. Hal-hal seperti ini memang sering Allah hadirkan tanpa kita duga.

Akhirnya kita tukar nomor HP. Setelah itu dia pamit.

Saya sedih, tapi juga senang. Kita memang tidak pernah tahu rahasia Allah. Kita sering menilai manusia dari apa yang tampak di luar, padahal Allah melihat hati dan niat. Kadang Allah sembunyikan mutiara di tempat yang tidak kita sangka, agar kita belajar rendah hati dan tidak mudah menghakimi. Dakwah tidak selalu hadir dari mimbar dan majelis besar. Kadang ia hadir lewat lagu sederhana, lewat tutur yang jujur, dan lewat hidup yang penuh luka namun tetap menyimpan iman.

Pertemuan singkat ini mengingatkan saya bahwa setiap manusia sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Tugas kita bukan meremehkan, tetapi mendengarkan, menghargai, dan mengambil hikmah. Bisa jadi, lewat pertemuan sederhana, Allah sedang mengajarkan kita pelajaran besar tentang keikhlasan, kerendahan hati, dan syukur.

Kita memang tidak pernah tahu rahasia Allah. Maka jangan merasa tinggi, jangan cepat merendahkan, dan jangan lelah berbuat baik. Dari arah mana pun, Allah bisa menurunkan cahaya dan pelajaran hidup.

Kisahku di Palangkaraya
Kamis malam Jumat, 20 Rajab 1447 Hijriyah / 8 Januari 2026

Asy-Syariif Ahmad bin Novel bin Jindan 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post