I. Profil dan Kedekatan dengan Baginda Nabi SAW
Sayyidah Ummu Salamah r.a. memiliki nama asli Ramlah binti Abi Umayyah. Beliau adalah sosok Ummul Mu’minin yang memiliki kedekatan nasab yang kuat dengan Rasulullah SAW. Suami pertamanya, Abu Salamah, merupakan saudara persusuan Nabi SAW karena keduanya disusui oleh Tsuwaibah Al-Aslamiyah. Selain itu, Abu Salamah juga merupakan sepupu Nabi SAW; ibunya adalah Barrah binti Abdul Muthalib. Pasangan ini termasuk kelompok Assabiqunal Awwalun (orang-orang pertama yang memeluk Islam) dan telah mengikuti hijrah ke Habasyah sebanyak dua kali sebelum akhirnya diperintahkan berhijrah ke Madinah.
II. Detail Perjuangan Hijrah dan Pemisahan Keluarga
Perjalanan hijrah Ummu Salamah ke Madinah dipenuhi dengan pengorbanan yang sangat berat:
- Konflik Antar Keluarga: Saat hendak berangkat, terjadi keributan besar antara keluarga Ummu Salamah (pihak istri) dan keluarga Abu Salamah (pihak suami).
- Penyanderaan dan Kekerasan: Keluarga Ummu Salamah menahan beliau secara paksa agar tidak ikut hijrah. Sebagai balasan, keluarga Abu Salamah mengambil paksa putra mereka, Salamah, dari pelukan ibunya hingga dikisahkan tangan sang anak mengalami luka fisik (putus/terkilir) akibat tarik-menarik antar keluarga tersebut.
- Ketabahan dalam Kesendirian: Akibat kejadian ini, keluarga mereka terpecah. Abu Salamah terpaksa berangkat sendiri ke Madinah, sementara Ummu Salamah terpisah dari suami dan anaknya selama hampir satu tahun. Beliau menghabiskan waktu setiap hari dengan menangis di penghujung kota Mekkah hingga akhirnya pihak keluarga merasa iba dan mengizinkannya menyusul sang suami.
III. Kemuliaan Utsman bin Thalhah
Dalam perjalanan menyusul suaminya ke Madinah, Ummu Salamah yang saat itu hanya membawa bayinya bertemu dengan Utsman bin Thalhah di wilayah Tan’im. Meskipun saat itu Utsman belum memeluk Islam, ia menunjukkan akhlak dan kehormatan yang luar biasa:
- Penjaga Kehormatan: Selama perjalanan dua minggu menuju Madinah, Utsman menuntun unta Ummu Salamah dengan berjalan kaki tanpa sekalipun menyentuh, melihat, atau mengajaknya bicara demi menjaga kehormatan seorang wanita bersuami.
- Adab dalam Perjalanan: Setiap kali hendak beristirahat, Utsman akan menjauh untuk memberikan privasi bagi Ummu Salamah saat turun dari untanya. Ia hanya akan mendekat kembali setelah Ummu Salamah siap melanjutkan perjalanan.
IV. Pernikahan dengan Rasulullah SAW dan Kecerdasan Akal
Setelah Abu Salamah wafat, Rasulullah SAW melamar Ummu Salamah melalui perantara Umar bin Khattab. Dalam momen ini, Ummu Salamah menunjukkan kecerdasan akalnya dengan menyampaikan tiga pertimbangan penting sebelum menerima lamaran tersebut:
- Sifat Pencemburu: Beliau khawatir rasa cemburunya sebagai wanita akan mendorong perilaku yang tidak layak di hadapan Nabi.
- Tanggung Jawab Anak: Beliau memiliki anak-anak yang harus diurus dan menjadi tanggung jawabnya.
- Koreksi Usia: Meskipun dalam dialog dars disebutkan beliau merasa sudah berusia lanjut, berdasarkan catatan sejarah, beliau menikah dengan Rasulullah SAW pada usia yang matang (sekitar 30 tahun).
Rasulullah SAW menanggapi dengan bijak: menjanjikan doa agar rasa cemburunya dihilangkan, menyatakan usia bukan kendala, dan menjamin bahwa urusan anak-anak beliau akan dicukupi kebutuhannya.
V. Kritik terhadap Patriarki dalam Islam
Kisah Ummu Salamah meruntuhkan ideologi patriarki, yaitu dominasi laki-laki yang merendahkan martabat dan peran wanita dalam kehidupan.
- Kemitraan Sejati: Rasulullah SAW mencontohkan bahwa wanita bukan hanya pelengkap, melainkan rekan yang diajak bermusyawarah dalam urusan besar dan penting.
- Bantahan terhadap Merendahkan Wanita: Ajaran Islam tidak pernah memosisikan akal wanita “hanya setengah” atau hanya melibatkan mereka dalam musyawarah untuk sekadar dilanggar pendapatnya. Melibatkan wanita dalam keputusan adalah bentuk penghormatan dan pengakuan atas kompetensi mereka.
VI. Akhir Hayat
Sayyidah Ummu Salamah wafat pada usia yang panjang (sekitar 84 hingga 90 tahun). Beliau adalah salah satu istri Nabi yang paling akhir wafat. Beliau tidak menyaksikan langsung peristiwa di Karbala, namun beliau mengetahui kabar menyedihkan tersebut sebelum akhirnya berpulang dan dimakamkan di pemakaman Baqi.
Penulis: Asy Syariif Ahmad bin Novel bin Jindan
Hari/Tanggal: Rabu, 4 Dzul Qoidah 1447 Hijriyah / 22 April 2026
Tempat: Al Hawthah Al Jindaniyah

