Manusia adalah tempat berbuat salah dan lupa. Setiap orang berdosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertaubat kepadaNya. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menekankan sifat Maha Pengampun Allah. Allah Maha Tahu akan sifat manusia yang selalu melakukan kesalahan, dan untuk itu Allah selalu menyediakan ampunan bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat. Allah memberikan ampunan-Nya agar manusia memiliki sikap optimisme dalam hidupnya dan menyediakan pintu taubat bagi hambaNya yang sungguh-sungguh. Taubat dibuka seluas-luasnya bagi setiap orang selagi manusia belum menemui ajalnya. Al afwu adalah sifat Maha pengampun Allah yang lekat pada zat Allah yang Mahamulia. Di antara pemaafanNya adalah bahwa perbuatan amal shalih bisa menghapus perbuatan buruk dan dosa.
Di antara amal-amal shalih yang sangat dianjurkan adalah sifat memaafkan. Islam juga mengajarkan pemeluknya untuk memberi maaf dan menjauhi sifat dendam. Mudah memaafkan, penyayang terhadap sesama muslim dan lapang dada terhadap kesalahan orang merupakan amal shalih yangkeutamaannya besar dan sangat dianjurkan oleh Islam. Bahkan sifat ini termasuk ciri hamba Allah SWT yang bertakwa kepadaNya, sebagaimana firmanNya:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤
Artinya : “(yaitu) orang orang yang menafkahkan (hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Ali Imran :134)
Salah satu akhlak mulia adalah sifat pemaaf, dan lawan dari sifat ini adalah sifat pemarah dan pendendam. Memberi maaf adalah sifat luhur yang harus ada pada diri setiap muslim. Begitu tingginya nilai memaafkan ini hingga ia mampu membebaskan hukum qishash bagi pembunuh yang mendapat ampunan dari keluarga korban. Karena itulah, Rasulullah SAW secara khusus menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala sifat mudah memafkan di sisi Allah dalam sabda beliau, “ Tidaldah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan dunia dan akhirat.” Artinya, bahwa seseorang yang mudah memaafkan akan dimuliakan di dunia dan mendapat pahala yang besar dari Allah SWT. 
Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah sebaik-baik panutan bagi seluruh umat manusia. Di antara contoh keperibadian mulia yang terdapat dalam diri Rasulullah SAW adalah sikap pemaaf beliau. Ini dapat kita perhatikan dalam banyak peristiwa yang dialami beliau. Banyak riwayat yang menceritakan kemuliaan akhlak beliau dengan memaafkan orang kafir yang menyakiti beliau hingga menyebabkan mereka masuk Islam. Dalam sirah Rasulullah SAW, beliau sering disakiti oleh seorang wanita Yahudi di Madinah. Bukan saja memaki Rasul, dia juga meletakkan duri di jalan yang beliau lalui dan melemparkan najis kepada beliau SAW. Tetapi beliau tetap bersabar dan tidak membalas kejahatan wanita tersebut dengan kejahatan juga. Ketika beliau beberapa saat tidak melihat wanita ini, beliau pergi menziarahinya. Ternyata wanita ini sedang sakit. Ketika melihat kehadiran Nabi SAW menjenguk ke rumahnya, si wanita terkejut. Wanita ini kagum akan tingginya akhlak baginda sehingga ia pun akhirnya masuk Islam.
Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al-Qur’an. Meski banyak orang yang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah berkepanjangan. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini lalu belajar dari kesalahan mereka. Mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang- orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah dan berjalan sesuai takdir tertentu, karena itu, mereka berserah diri dan tidak remah terbelenggu oleh amarah.
Penelitian membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan ternyata lebih sehat jiwa dan raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan kemudian merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniah namun juga jasmaniah. Telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress atau tekanan jiwa, susah tidur dan sakit perut menjadi sangat berkurang pada orang-orang ini
Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meski terasa berat, terasa membahagiakan. Ia menjadi satu bagian dari akhlak terpuji yang menghilangkan berbagai aampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat secara lahir mau pun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah dan telah dinyatakan dalam banyak ayat Al-Qur’an, adalah satu dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.
Mulai saat ini, tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi diri, sejauh mana kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta maaf atas semua kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Manusia besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hati, serta selalu mementingkan kemaslahatan umat. Kita juga harus menyadari bahwa tiada manusia yang sempurna sehingga tidak menutup kemungkinan kita juga pernah menyakiti orang lain. Sikap meminta maaf adalah sikap kesatria. Memberi maaf adalah sikap yang memiliki timbangan pahala yang besar dari Allah.
Orang yang mulia adalah orang yang suka memaafkan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Musa bin Imran a.s, berkata: “Wahai Tuhanku, di antara hamba-hamba-Mu, siapakah orang yang paling mulia dalam pandangan-Mu ? “Allah Azza Wajalla menjawab, “ Orang yang memaafkan walau pun ia mampu membalas. ( Hadits Riwayat Baihaqi)
Mari kita tanamkan dalam hati dan jiwa kita sifat pemaaf, karena sifat pemaaf adalah sifat ahli surga, sedangkan sifat pemarah dan pendendam adalah sifat penghuni neraka. Dari sifat pemarah dan pendendam akan terlahir sifat hasad, dengki, irihati , sombong, congkak dan takabur. Bawalah akhlak Islam di mana sahaja kita berada agar tindakan kita tidak mencemarkan kesucian dan kemuliaan akhlak Islam. Umat Islam bukannya umat yang bengis, kasar dan pendendam.
Jika sifat memaafkan kita amalkan, insya Allah kita juga tidak akan menanggung kemarahan dari orang lain. Sesungguhnya Allah SWT terlebih awal memberi ampunan dengan rahmat-Nya ketika kita hidup di dunia serta kehidupan di hari akhirat. Besar harapan kita, Allah SWT akan memaafkan kesalahan dan dosa kita di akhirat nanti jika di dunia kita senantiasa memaafkan kesalahan orang lain. Wallahua’lam bishawab.

No responses yet